Thursday, July 21, 2011

10 Best Trips of Summer 2011

Wednesday, June 8, 2011

My First Hiking Experience (2)

Sudah hampir pukul 4 pagi ketika akhirnya kami sampai di alun-alun Surya Kencana. Melihat camp-camp kelompok lain yang sudah berdiri membuat kami ingin cepat-cepat mendirikan camp juga dan segera tidur. Kami membagi tugas, saya dan seorang anggota kelompok membuat minuman hangat, sedangkan beberapa yang lain mendirikan camp. Udara yang sangat dingin menuntut kami untuk bergerak dengan cepat. Setelah camp sudah didirikan kami pun segera mengganti baju dan satu persatu mulai meringkuk di dalam sleeping bag dan mencari posisi ternyaman untuk tidur.

Pukul 8 kami semua bangun dan mulai membagi tugas lagi. Ada yang mengambil air, memasak sarapan, dan ada juga yang membantu membuat shelter. Hari itu agenda pertama kami adalah evaluasi. Banyak hal yang menjadi masalah bagi caang-caang terutama mengenai fisik dan masalah packing yang kurang baik. Agenda kedua kami adalah mempresentasikan makan siang. Setiap kelompok mempersiapkan masakan terbaik mereka. Kelompok kami membuat pasta yang kami namakan Fetucini Surya Kencana 8 Hours dengan filosofi karena kami membuatnya di Surya Kencana dan membutuhkan waktu 8 jam untuk dapat sampai ke Surya Kencana. Setelah mempresentasikan makan siang, waktu luang yang ada kami manfaatkan untuk tidur sehingga tidak sempat untuk makan siang. Agenda terakhir kami hari itu adalah persembahan. Masing-masing kelompok diminta untuk memberikan persembahan penampilan. Persembahan yang ditampilkan bermacam-macam seperti menyanyi, drama, dan puisi.

Hari berikutnya adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh saya atau juga caang-caang yang lain karena kami akan melakukan summit. Pendakian ke puncak ini jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan bagaimana perjalanan kami ke Surya Kencana. Summit yang dilakukan bersama-sama oleh 73 caang Mapala UI yang ikut dalam perjalanan praktek pertama ini membuat saya sendiri merasa lebih bersemangat. Walaupun jalan menanjak memang selalu menjadi masalah buat saya, semuanya serasa terbayarkan ketika pada akhirnya saya berhasil mencapai puncak. Ada kebanggaan tersendiri bagi saya sebagai orang yang tidak pernah hiking. Kami menghabiskan waktu di puncak untuk berfoto dan melakukan opsir.

Setelah summit kami pun kembali ke Surya Kencana, mulai membereskan camp dan packing, dan bersiap-siap untuk turun. Kali ini kelompok 13 menjadi kelompok pertama yang memulai perjalanan turun ini. Kami tidak dibagi dalam trip-trip seperti saat naik dan juga tidak terdapat pos-pos. Jalur yang kami lalui sama seperti ketika kami naik. Namun perjalanan pulang ini terasa lebih mudah. Dalam perjalanan turun ini salah satu anggota kelompok kami mengalami cedera sehingga harus bertukar carrier dengan anggota yang lain. Kami pun hanya beberapa kali berhenti untuk melepaskan raincoat dan raincover. Istirahat yang dilakukan tidak sebanyak saat naik.

Walaupun kami bukan kelompok pertama yang tiba di atas atau pun yang sampai di bawah lebih dulu, kami tetap merasa senang karena yang paling utama bukanlah siapa yang lebih dulu tetapi kebersamaan yang kami lalui. Penuh perjuangan tetapi selalu ada kepuasan pada akhirnya

My First Hiking Experience (1)

Praktek I Pendakian Gunung Gede (22-24 April 2011)

Kurang lebih tiga minggu telah berlalu sejak Grand Opening BKP Mapala UI 2011. Sekarang tiba saatnya bagi para caang (calon anggota) Mapala UI untuk melakukan praktek pertama, yaitu pendakian ke Gunung Gede. Segala persiapan telah dilakukan oleh setiap caang Mapala UI, mulai dari fisik sampai persiapan peralatan dan barang-barang yang akan dibawa. Untuk praktek pertama ini caang-caang Mapala UI terbagi dalam 13 kelompok.

Sebelum perjalanan pertama ini dimulai, semua caang berkumpul di Pusbintakwa, Pusgiwa UI untuk mendapatkan briefing mengenai perjalanan ini. Dalam briefing tersebut dilakukan pembagian kelompok dalam 3 trip (leader, middle, sweaper). Saya yang tergabung dalam kelompok 13 masuk dalam trip ketiga. Selain itu dijelaskan juga mengenai sistem perjalanan yang dilakukan, yaitu dengan 30 menit perjalanan dan 5 menit istirahat.

Dalam pendakian ini, jalur yang akan kami lewati adalah jalur putri. Untuk menuju ke entry point kami menggunakan tronton. Kelompok 1 sampai 4 berada dalam tronton I, kelompok 5 sampai 9 dengan tronton II, dan kelompok 10 sampai 13 dengan tronton III. Di dalam tronton terasa sangat padat, terutama karena carrier-carrier besar yang dibawa memakan cukup banyak space. Beberapa dari kami bahkan duduk di lantai dengan beralaskan matras. Meskipun demikian, perjalanan ini tidak terasa membosankan, banyak dihiasi oleh canda tawa sebagai pembunuh waktu.

Sampai di entry point jalur putri, kami diberikan waktu untuk makan, shalat, dan bersiap-siap. Nasi rames yang dibeli di warteg tadi siang menjadi santapan kami malam itu. Setiap kelompok pun mulai dilepas sesuai dengan urutan trip. Sebelumnya tidak lupa dilakukan pemanasan. Kelompok 13 tentu saja menjadi kelompok yang paling terakhir dilepas.

Belum 30 menit kami berjalan, saya sudah mulai merasa lelah. Terutama karena track yang terus menanjak. Pada awalnya jalan yang kami lalui dikelilingi oleh ladang-ladang, kemudian kami mulai masuk ke dalam hutan. Perjalanan yang dilakukan di malam hari menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Kondisi yang gelap dengan hanya penerangan dari headlamp membuat kami cukup kesulitan melihat jalan. Namun di sisi lain perjalanan malam hari memberikan keuntungan juga. Karenan gelap kami jadi tidak terlalu memperhatikan kondisi jalan yang kami lewati seperti licin atau curam. Kami hanya berusaha untuk terus berjalan. Tempat tujuan kami malam itu adalah Surya Kencana, tempat dimana kami akan mendirikan camp. Selama perjalanan ke Surya Kencana, kami melalui 4 pos yang sengaja ditempatkan di lokasi-lokasi tertentu. Setiap perjalanan 30 menit yang kami lakukan, saya merasa perjalanan tersebut sangat lama, sedangkan waktu istirahat 5 menit terasa sangat cepat.

Selain membuat saya kelelahan karena lebih cepat kehabisan energi, jalan yang terus menanjak juga membuat lebih terengah-engah. Carrier yang dibawa semakin lama terasa semakin berat dan saya pun semakin sulit bernafas. Malam mulai larut dan setiap langkah yang saya jalani juga semakin berat. Masalah lain yang kami hadapai karena perjalanan malam hari adalah udara yang semakin dingin dan rasa ngantuk yang mulai mendera. Kadang dalam sesi istirahat yang kami lakukan saya tergoda untuk memejamkan mata, tetapi sering mendengar tentang hipotermia membuat saya terus berusaha membuka mata. Untuk menambah energi selama istirahat kami juga sempat membuat susu coklat dan memakan cemilan-cemilan yang kami bawa.

Semakin mendekati Surya Kencana track yang kami tempuh semakin sulit. Kami harus menaiki undakan-undakan vertikal yang jaraknya cukup tinggi. Beberapa kali saya terjatuh saat menaiki undakan, dari karena jalan yang licin sampai karena kaki yang mulai goyah sehingga tidak sanggup menarik seluruh tubuh dan carrier untuk naik. Bahkan pada akhirnya saya menyerah untuk menaiki undakan dengan menapak dan terpaksa menggunakan lutut. Untuk berdiri dari posisi berlutut ternyata lebih menguras tenaga lagi karena carrier yang berat. Selama perjalanan ini sering saya harus menunduk untuk dapat menarik nafas panjang dan dalam. Entah hanya masalah pengaturan nafas yang tidak baik atau karena carrier yang menekan iga dan membuat paru-paru tidak bisa mengembang dengan maksimal, yang pasti saya semakin sulit bernafas. Kadang dalam beberapa langkah saya seperti tidak bernafas dan kemudian harus membungkuk untuk mengambil nafas yang dalam. Kebiasaan saya yang membungkuk terus-menurus memperlambat jalan kami dan merepotkan orang yang berada di belakang saya karena harus menunggu. Selain itu ditambah dengan langkah yang semakin goyah membuat saya harus ditarik dan didorong agar bisa berjalan terus.


Sunday, February 27, 2011

Baduy, Desa Tanpa Peradaban (part 3)

Malam semakin larut dan kami pun memutuskan untuk tidur. Beberapa ada yang membawa sleeping bag sehingga bisa tidur dengan nyenyak dan hangat. Gw yang hanya bermodal kain bali akhirnya tidur di lantai dengan sedikit menggigil.

Minggu, 16 Januari 2011
Suara ayam, tumbukan padi, dan anak pemilik rumah yang menangis memanggil-manggil ibunya membangunkan kami pagi itu. Hari ini kami akan kembali ke Jakarta. Kami mulai berbenah, merapikan pakaian, menyiapkan sarapan, dll. Sarapan kami pagi itu tidak berbeda dengan makan malam sebelumnya. Hanya saja kali ini tanpa sarden. Setelah makan gw dan beberapa orang membantu ibu pemilik rumah mencuci piring di sungai. Semua aktivitas dari mandi, mencuci, buang air kecil, sampai BAB dilakukan di sungai. Ya, sungai yang sama. Tapi tidak perlu khawatir karena walaupun sungainya sama tapi masing-masing memiliki tempat sendiri-sendiri. Tempat untuk pria dan wanita pun dibedakan. Ada hal lain yang membuat kami cukup terkesima di sini. Orang-orang baduy ternyata putih-putih dan banyak yang cakep, terutama wanita-wanita baduy. Pria baduy pun ada yang ok, bahkan beberapa wanita yang ikut trip ini mengaku melihat pria baduy yang mirip aktor korea. Ah, sayang gw sendiri tidak ikut melihat.

Untuk mengejar kereta menuju Tanah Abang, kami memutuskan untuk memulai perjalanan ke baduy luar pada pagi hari. Jalur yang kami lalui kali ini berbeda dengan jalur saat datang. Kali ini jalur yang diambil lebih banyak melewati desa baduy luar, sedangkan jalur pertama melalui hutan. Walaupun medan yang dihadapi tidak seberat saat datang, tapi trekking kali ini diiringin oleh hujan yang cukup deras. Gw sendiri dengan kondisi paha yang sakit karena trekking kemarin dan kaki yang lecet akhirnya menjadi yang paling belakang. Untungnya gw dibantu oleh anggota yang lain sehingga meskipun menjadi yang paling belakang gw tetap berhasil sampai di garis finish.

Begitu sampai di Ciboleger, kami singgah di rumah Lamri untuk mandi atau sekedar berganti pakaian dan mengambil barang bawaan yang kami titipkan hari sebelumnya agar tidak memberatkan dan sia-sia karena tidak akan digunakan selama di baduy dalam. Selain men jadi guide, Lamri juga menjual barang-barang khas baduy seperti sarung, kain tenun, baju khas baduy, madu, hingga kaos-kaos bertuliskan baduy. Karena gw termasuk yang menganggap cendramata itu barang yang wajib ketika mengunjungin suatu tempat, maka gw menghabiskan setengah dari total pengeluar trip ini untuk ole-ole.

Sama seperti ketika datang, perjalanan dari Ciboleger ke Rangkasbitung pun menggunakan elf. Namun kali ini tanpa lagu bibir atas basah bibir bawah basah. Di Rangkasbitung entah kami turun di mana, yang pasti dari tempat kami turun ke stasiun hanya ditempuh dengan jalan kaki yang hanya sebentar dengan melewati gang-gang kecil. Setelah membeli tiket karena masih ada waktu sebelum keberangkatan kereta, kami memutuskan untuk makan di sebuah rumah makan padang dekat stasiun. Puas dengan menu yang jelas berbeda dengan saat kami di baduy, kami kembali ke stasiun dan akhirnya menuju Jakarta. Perjalanan menuju Jakarta tidak sebaik ketika menuju Rangkasbitung. Kereta jauh lebih padat dan lebih mahal. Kali ini kami turun di stasiun yang berbeda-beda, tetapi sebagian besar tetap turun di St. Tanah Abang. Dari St. Tanah Abang kami bertolak ke tempat tinggal masing-masing.