Malam semakin larut dan kami pun memutuskan untuk tidur. Beberapa ada yang membawa sleeping bag sehingga bisa tidur dengan nyenyak dan hangat. Gw yang hanya bermodal kain bali akhirnya tidur di lantai dengan sedikit menggigil.
Minggu, 16 Januari 2011
Suara ayam, tumbukan padi, dan anak pemilik rumah yang menangis memanggil-manggil ibunya membangunkan kami pagi itu. Hari ini kami akan kembali ke Jakarta. Kami mulai berbenah, merapikan pakaian, menyiapkan sarapan, dll. Sarapan kami pagi itu tidak berbeda dengan makan malam sebelumnya. Hanya saja kali ini tanpa sarden. Setelah makan gw dan beberapa orang membantu ibu pemilik rumah mencuci piring di sungai. Semua aktivitas dari mandi, mencuci, buang air kecil, sampai BAB dilakukan di sungai. Ya, sungai yang sama. Tapi tidak perlu khawatir karena walaupun sungainya sama tapi masing-masing memiliki tempat sendiri-sendiri. Tempat untuk pria dan wanita pun dibedakan. Ada hal lain yang membuat kami cukup terkesima di sini. Orang-orang baduy ternyata putih-putih dan banyak yang cakep, terutama wanita-wanita baduy. Pria baduy pun ada yang ok, bahkan beberapa wanita yang ikut trip ini mengaku melihat pria baduy yang mirip aktor korea. Ah, sayang gw sendiri tidak ikut melihat.
Untuk mengejar kereta menuju Tanah Abang, kami memutuskan untuk memulai perjalanan ke baduy luar pada pagi hari. Jalur yang kami lalui kali ini berbeda dengan jalur saat datang. Kali ini jalur yang diambil lebih banyak melewati desa baduy luar, sedangkan jalur pertama melalui hutan. Walaupun medan yang dihadapi tidak seberat saat datang, tapi trekking kali ini diiringin oleh hujan yang cukup deras. Gw sendiri dengan kondisi paha yang sakit karena trekking kemarin dan kaki yang lecet akhirnya menjadi yang paling belakang. Untungnya gw dibantu oleh anggota yang lain sehingga meskipun menjadi yang paling belakang gw tetap berhasil sampai di garis finish.
Begitu sampai di Ciboleger, kami singgah di rumah Lamri untuk mandi atau sekedar berganti pakaian dan mengambil barang bawaan yang kami titipkan hari sebelumnya agar tidak memberatkan dan sia-sia karena tidak akan digunakan selama di baduy dalam. Selain men jadi guide, Lamri juga menjual barang-barang khas baduy seperti sarung, kain tenun, baju khas baduy, madu, hingga kaos-kaos bertuliskan baduy. Karena gw termasuk yang menganggap cendramata itu barang yang wajib ketika mengunjungin suatu tempat, maka gw menghabiskan setengah dari total pengeluar trip ini untuk ole-ole.
Sama seperti ketika datang, perjalanan dari Ciboleger ke Rangkasbitung pun menggunakan elf. Namun kali ini tanpa lagu bibir atas basah bibir bawah basah. Di Rangkasbitung entah kami turun di mana, yang pasti dari tempat kami turun ke stasiun hanya ditempuh dengan jalan kaki yang hanya sebentar dengan melewati gang-gang kecil. Setelah membeli tiket karena masih ada waktu sebelum keberangkatan kereta, kami memutuskan untuk makan di sebuah rumah makan padang dekat stasiun. Puas dengan menu yang jelas berbeda dengan saat kami di baduy, kami kembali ke stasiun dan akhirnya menuju Jakarta. Perjalanan menuju Jakarta tidak sebaik ketika menuju Rangkasbitung. Kereta jauh lebih padat dan lebih mahal. Kali ini kami turun di stasiun yang berbeda-beda, tetapi sebagian besar tetap turun di St. Tanah Abang. Dari St. Tanah Abang kami bertolak ke tempat tinggal masing-masing.
0 comments:
Post a Comment